Tampilkan postingan dengan label Love Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Love Story. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Mei 2011

Lukisan Hujan


Aku tak pernah tahu bagaimana rasanya kehilangan, sampai kau yang mengajariku bagaimana merelakan sesuatu yang akan hilang.
            Kutatap bangunan yang berdiri kokoh itu lekat-lekat. Ada sesuatu yang membuat pandanganku tak bisa lepas darinya. Serangkaian kata terukir di pagar besi yang menjulang tinggi dan besar. Kata-kata motivasi yang hampir pudar di sapu hujan dan terik matahari ribuan hari, namun tetap terlihat elok dan menawan. Pagi ini sepertinya sang mentari enggan bangun, tak tampak sinarnya menghiasi langit pagi. Atau mungkin mentari sudah lelah? Sudah bosan menemani manusia? Lupakanlah. Aku turun dari mobil hitam menggenakan seragam putih-abu kebangganku. Ahh, tak terasa tiba juga saat ini. Ku tarik nafasku dan ku keluarkan perlahan, kunikmati atmosfer di sekitarnya. Tepat, masih sama seperti dua tahun yang lalu. Angin pagi beriringan menemani langkahku yang perlahan memasuki bangunan itu. Beberapa teman tersenyum menyapa, ada yang berhenti sekedar menawarkan tumpangan sampai ke parkiran. Ku gelengkan kepalaku mantap, aku ingin menikmati hari ini sendiri, dengan caraku sendiri. Samar-samar kudengar deru motor yang seketika membuat jantungku berdegup. Tak berani kumenoleh ke belakang, aku takut kecewa. Kuteruskan langkahku, entah sudah berapa kali dia memanggil namaku, tak jua ku balas. Sudah kubilang kan, aku takut kecewa.
Sampai di pelataran bangunan ini akhirnya ku hentikan langkahku. Memandang sekeliling. Ku kulumkan senyuman manis sekedar untuk membalas sapaan orang-orang yang berlalu lalang didepanku ini. Ah jadi seperti ini rasanya berdiri di antara hiruk-pikuknya ribuan orang yang mengejar mimpi. Sayup-sayup terdengar lantunan kidung di sudut barat, indah dan begitu menenangkan. Kemudian terlihat satu-persatu anak bergantian memasuki tempat pemujaan para dewa, menghaturkan bunga-bunga berwarna cantik serta tak lupa berpesan doa kepadaNya. Semuanya tulus berdoa, sejenak seperti melupakan beban yang mereka tanggul di dunia. Aroma dupa yang beragam menusuk hidungku, lekas kupercepat langkahku mengingat tujuanku datang kemari. Namun kembali langkahku tercegat, kali ini bukan karena suara permainan gamelan ataupun suara mantra-mantra yang terdengar apik yang membuatku terdiam. Kurasakan tangan kananku berat, ya seseorang menahannya. Dia. Aku tak berbalik, karena aku takut saat aku membalikan badan nanti duniaku akan kacau, sekali lagi aku takut kecewa. Seperti biasa, dia mengucapkan kata-kata yang mungkin baginya terkesan biasa tapi tidak bagiku. Dia bisa tertawa seperti itu dan aku hanya tersenyum kecut sembari berusaha mengatur detakan jantung ini. Ku beranikan membalikan badanku, sekali saja, tak apalah jika aku kecewa sekali saja, karena ini hari terakhir. Dia tersenyum dan aku selalu seperti ini, berkata-kata tak karuan tanpa berani melihat matanya. Aku tak kecewa, sungguh. Karena tak ada yang menemaninya . Hanya dia , ya dia dan aku.
            Berjalan disampingnya membuatku sadar aku terlalu banyak melewatkan waktu bersamanya. Seingatku sebulan yang lalu tingginya hanya berkisar dua atau tiga cm diatasku, tetapi bagaimana sekarang ia bisa jauh melampauiku. Ku perhatikan alas kakinya, dia tidak memakai high heels ataupun wedges , dia juga tidak menyumbal sepatu adidas hitamnya itu dengan batu atau apalah itu. Bagaimana mungkin bisa. Ku nikmati aromanya yang tersapu angin pagi diam-diam, tanpa sadar kutersenyum. Masih sama seperti dulu, tak pernah berubah. Aku bisa melihatnya dari ekor mataku, ya dia sedang memerhatikanku sambil tersenyum. kubalas dengan delikan “apa?” dan dia menghentikan langkahnya. Apa aku salah berucap? Kuperhatikan tangan kanannya terangkat dan mengacak-acak rambutku. Mataku tanpa sadar terpejam, aku tak berani berharap. Biarlah hanya aku dan Tuhan yang dapat merasakan detakan jantung ini, biarlah tertutupi oleh suara burung-burung gereja atau hembusan angin yang merayu. Ku kibaskan tangannya, dan tetap berjalan lurus kedepan. Kembali dari ekor mataku kuperhatikan dia terdiam, menghela nafas panjangnya kemudian berjalan menyusulku. Aku menunduk, memang seharusnya seperti ini kan?. Kutemukan sosok gadis manis tengah berdiri kurang lebih lima meter dariku. Dari kejauhan bisa kutebak siapa dia. Dia melambaikan tangan ke arahku tapi hanya kubalas dengan senyuman, karena aku yakin lambaian itu bukan untukku melainkan untuk orang di belakangku, ya untuknya. Semakin dekat jarakku dengan gadis itu, semakin terlihat jelas kerutan di wajahnya. Ahh bagaimana aku bisa tak sadar, jarakku dengannya terlalu dekat. Ku dorong tubuhnya begitu aku tahu betapa dekatnya kami. Lekas ku ucapkan salam perpisahan kepada mereka berdua dan masuk ke ruangan ini, ruang kelasku. Suasana kelas ini masih sepi, hanya ada sebagian orang teman-temanku. Ku sapa mereka satu-persatu, ini hari terakhir kan? Aku ingin menghafal nama mereka satu persatu. Aku berjalan ke deretan bangku nomor tiga dari depan. Ku letakan tas biru dongkerku di atas meja dengan sembarang, kemudian duduk dengan manis di kursi kesayanganku yang akan aku tinggali ini. Ku alihkan pandanganku ke luar jendela. Bisa kulihat mereka berdua masih berdiri di koridor kelas. Gadis itu tak henti-hentinya tersenyum, mendengar celotehan pasangannya. Kuperhatikan muka gadis itu, ada kebahagiaan di sana. Tanpa sadar ku titikan air mataku, jatuh begitu saja. Mengapa rasanya begitu sakit. Sakit sekali. ketika aku kembali menghadap jendela ku temukan mataku beradu dengan matanya. Lekas kuhapuskan sisa air mataku. Dan seketika aku mengalihkan pandanganku. Berharap ia tidak melihatnya, berharap ia tak akan pernah tahu rasa yang aku simpan untuknya. Kutundukan wajahku, menangis dalam diam itu ternyata jauh lebih menyakitkan. Tak apalah aku menangis hari ini, ini kan hari terakhir. Ya setidaknya kau dan dia punya happy ending.
Aku masih bergeming dalam diam ketika hujan tiba-tiba turun. Bahkan langitpun seolah bisa mengerti bagaimana suasana hatiku, dan hujan pun turut menemaniku menangis, terlalu deras, membuat nada-nada indah menjadi percuma. Sekilas kupandangi kembali sosoknya di balik jendela yang mulai tersamarkan hujan. Dia sedang tertawa-tawa bersama teman-teman lainnya. Aku tahu dia paling suka hujan. Mata kami kembali bertemu pandang. Kali ini tak aku acuhkan. Aku tersenyum. Seulas senyuman selamat tinggal. Dia balas tersenyum. Dan dengan itu, aku pun mengucapkan selamat tinggal yang sesungguhnya. Karena ada beberapa hal yang lebih baik tidak terucap. Cinta itu tidak memiliki. Begitu pula denganku. Walaupun sekarang rasanya sakit.
Sudah dua tahun kita terlambat dan ternyata hatiku masih sama, namun bukankah sudah tidak ada lagi kesempatan untuk memperbaikinya? Maaf, karena aku yang terlebih dahulu harus melepaskan kamu ...
           

Minggu, 24 April 2011

Ada Band - Masih

Official Video - Ada Band ft Gita-Gutawa - Yang Terbaik Bagimu

        Entahlah, tiba-tiba saja teringat akan lagu – lagu milik Ada Band. Sudah lima tahun mungkin tidak mendengar lagu yang satu ini : yang terbaik bagimu. Ahh lagu yang penuh dengan inspirasi. Lagu yang membuat aku sadar betapa pentingnya arti seorang ayah, yang membuatku bangga memiliki ”ayah” seperti ayahku sekarang. Lagu yang membuatku bersyukur kepada Tuhan karena telah melahirkanku ditengah-tengah keluarga sederhana ini. I love you Dad :). 


Selasa, 28 September 2010

FIRST LOVE part 2


Tahun berlalu dengan cepat tidak terasa aku sudah duduk di bangku kelas dua SMP. Dan mungkin ini tahun terakhirku bersama dengan Adit. Adit dan Rani mendapatkan beasiswa pendidikan di Singapura sungguh suatu prestasi yang luar biasa. Awalnya aku sedikit kecewa, itu berarti dua orang yang berharga bagiku akan pergi meninggalkanku, tapi aku merelakannya. Yah, setidaknya aku bangga mereka sukses. Tak terasa sudah lama juga aku tidak bertegur sapa dengan Adit. Yah hampir setahun lah. Jarak kelas kami cukup jauh dan kami terlalu sibuk dengan tugas dan kegiatan masing-masing. Hanya Rani yang tidak pernah absen berkunjung ke kelasku. Aku malas, mungkin tidak berani bermain ke kelasnya. Aku takut melihat Adit. Kami hanya bertemu saat menunggu jemputan atau saat berada di kantin. Entah aku sendiri juga tidak tahu mengapa aku takut menatap matanya itu. Tentu saja aku hanya berani memandangnya diam-diam. Namun terkadang kurasa dia juga memperhatikanku. Walau dengan cara yang berbeda tentu saja. Entahlah, pikiran kanak-kanakku tidak berpikir yang lain kecuali dia memperhatikanku. Dan dia menyebalkan karena itu, tapi sebenarnya aku suka. Iya, aku menyukainya. Dan saat itu pula aku harus merasakan sakitnya menyukai orang yang kita sukai.
Di kantin sekolah Adit bersama gerombolan anak laki-laki di kelasnya membicarakan tentang suatu hal yang membuatku berhenti untuk berharap. ” Dit, kamu ni enak banget ya pergi ke Singapore sama orang yg kamu suka. Tembak cepetan, sebelum kamu nyesel lho..” ucap seorang temannya. ”iya, udah ayo tembak, tembak, tembak.. awas nyesel kamu ntar” di sambung ledekan teman-temannya yang lain. Tenggorokanku terasa tercekat, seketika itu juga aku berhenti menghabiskan makananku, perutku terasa mualm, nafsu makanku hilang sudah dan butiran air mata itu pun jatuh begitu sja. Semua temanku panik, kaget. Aku berlari meninggalkan kantin lalu pergi ke kamar mandi sambil berlari. Oh Tuhan, hal bodoh apa yang sedang aku lakukan ini ??!
Seminggu lagi Adit dan Rani akan pergi dan aku sudah bisa menerima kenyataan bahwa Adit menyukai Rani. Aku tidak sama sekali membenci Rani. Hanya sedikit terselip rasa iri, namun itu semua bisa kupendam. Namun sepertinya Tuhan memiliki rencana lain untukku. Aku sedang menelpon mamaku untuk menjemputku tepat saat bel pulang berbunyi. Tiba-tiba Adit mengambil handphoneku, menghentikan panggilanku ke mama . ”Ayo kita ngobrol-ngobrol” ucapnya santai. Aku tidak bisa bergerak, tidak dapat mencerna kata-katanya itu ”Heh, ayoo! Seminggu lagi aku bakalan pergi lo dan aku gak mau ada orang yang manggil-manggil namaku setiap malam ”. ”maksudmu” ucapku acuh. ”Kamu sama sekali gak berubah ya masih aja galak dan cuek sama aku. Padahal aku berharap kamu sedikit lebih peduli gitu kek sama aku” sambungnya perlahan. Deg, kembali jantungku terasa aneh. Kita terdiam bersama. ”ya sudahlah, kayaknya kamu memang benar-benar benci sama aku dari dulu” aku terdiam mendengar ucapannya. ”aku pergi ya, daa..” ucapnya dengan nada sedikit aneh.”Tunggu” tanpa sadar aku menarik lengan bajunya. Seulas senyum terkembang di pipinya. Bagiamana aku bisa tak sadar, ia sudah tambah dewasa. Suaranya sudah mulai berubah dewasa, tingginya jauh melampauiku, dan senyumya berkali kali lipat lebih manis. Dia tampan. ” kenapa?” tanyanya. ”aaa..aku Cuma , Cuma pengen aja ngobrol terakhir kali sama kamu sebelum kamu kangen sama aku” jawabku sedikit garing. Tak kusangka dia tertawa, dan kita pun larut akan pembicaraan terakhir ini. Aku bisa tertawa lagi bersamanya seperti dulu, yah, seperti dulu lagi. “ Buruan dong tembak rani” ucapku kemudian. “Rani??”. “kamu suka kan sama dia, aiittt jodoh deh kayaknya kalian” jawabku dengan nada bergetar. Tuhan tolong kuatkan aku, jangan buat aku menangis di depannya. ” kalau iya kenapa, kalau enggak kenapa ? cemburu ya kamu ? “ Deg, rasanya semua perkataanya tepat sasaran. Dia tidak melanjutkan perkataannya dan mengalihkan pembicaraan. “ Hei, apa impianmu masa depan?” tanyanya sambil memandang langit. “eemmm, jadi presiden!” sahutku mantap. “hahahha, dasar kamu sama sekali tidak berubah” ucapnya sambil mengacak rambutku. Tuhan, apakah kau bisa menghentikan waktu untuk kali ini saja. ” kalo kamu apa?” tanyaku balik. ”Dokter, aku ingin menjadi dokter”. “waahwaah, kenapa ?” tanyaku lagi . “sama seperti alasanmu mengapa ingin menjadi seorang presiden” jawabnya sambil kembali tersenyum manis. Aku menunduk malu, ingin rasanya aku menangis saat itu juga. Kami menghabiskan waktu sangaaat lama. Dan percakapan terakhir kami di tutupnya dengan sebuah kalimat yang membuatku kembali berharap padanya. “Hei, aku pergi ya, kamu jaga dirimu baik-baik. Jangan cari rival yang lain. Tunggu aku, pokoknya tunggu aku. Aku janji berapa tahun lagi aku pasti ketemu kamu dan  cita-citaku itu akan terwujud, akan kutunjukan sama kamu. Jadi, tunggu aku ya.”
***
Sudah 4 tahun aku tidak bertemu dengannya dan suatu hari keajaiban itu datang. Aku sedang pergi bersama teman-teman SMAku ke suatu mall. Waktu itu hujan dan aku sedang berteduh di suatu tempat. Ketika tiba-tiba aku melihatnya. Ya, aku melihatnya. Melihat Adit berjalan diseberangku dengan gaya khasnya, berjalan santai sambil mendengarkan Ipodnya. Aku terus menatapnya, rasanya ingin sekali meneriakkan namanya, namun tenggorokanku tercekat. Aku benar-benar bodoh, aku sadar aku tak ingin mengulang kembali kesalahanku di masa lalu, berita apapun yang kudengar nanti akan aku ikhlaskan, aku rela. Tapi aku tidak ingin membiarkannya pergi lagi. Saat aku akan menerobos hujan dan menghampirinya dia menghentikan langkahnya, berbalik badan, dan menghadap ke arah ku. Pandangan kami saling bertemu. Aku tertegun, dia juga . Namun beberapa saat kemudian dia tersenyum, tersenyum dengan penuh arti kepadaku, ya hanya kepadaku. Dan aku membalasnya, menangis sambil tersenyum, meneteskan airmata yang mulai tersapu hujan. Aku tak tahu apa yang akan terjadi dengan kami nanti, tapi aku yakin dia pasti telah berhasil memenuhi janjinya padaku, meraih apa yang ia cita-citakan. Dan aku sudah cukup merasa bahagia atas itu. Aku tak berani menebak apa yang selanjutnya kan terjadi pada kami, tapi aku yakin semua akan indah pada waktunya. Hanya Tuhan yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

FIRST LOVE part 1


Dia mengingatkanku pada sesorang, seseorang yang tak pernah aku lupakan, seseorang yang pernah berharga di masa lalu.
Masih teringat kejadian 5 tahun lalu itu...
Aku termanggu disudut kelas menatap pekerjaanku yang masih berupa sketsa. Harusnya cepat ku selesaikan lukisanku itu. Tetapi benakku hanya dipenuhi impian dan warna yang samar-samar bisa ku terjemahkan. Pandanganku menerawang entah kemana. Tiba-tiba siluet wajah seseorang menegas seiring suara riuh murid-murid yang perlahan terdengar jelas, seperti volume radio yang sedikit-sedikit dinaikkan. Wajah itu kini jelas melemparkan senyuman kecil padaku. Aku tak bisa mengelak lagi, dengan kegugupan yang coba ku sembunyikan, aku balas senyumnya dengan delikan. "Apa!" tanyaku ketus tanpa suara. Wajah kecil itu malah kian melebarkan senyumnya. Ah, tak tahan ku tundukan wajahku. Tampaknya kutemukan tema yang cocok untuk lukisan ku. Matahari yang oranye di langit yang biru. Senyum dari wajah kecil itu mengingatkan ku tentang pemandangan langit di pagi hari. Hangat dan damai.
***
Aku adalah seorang gadis kecil yang kuat dan ceria. Aku dikelas enam SD adalah gadis yang punya banyak sekali teman. Aku suka persaingan namun aku paling benci menjadi kalah. Entah mengapa kekalahan bagiku adalah akhir perjalanan. Aku memiliki seorang sahabat karib yang entah bagaimana dia lebih hebat dibandingkan denganku. Dialah yang membuatku membuka mata bahwa kegagalah adalah awal dari kesuksesan. Namanya Rani, dia memiliki sifat yang 1800 berbanding terbalik denganku. Rani adalah seorang gadis pendiam dan pemalu. Terlalu pemalu hingga menarik diri dari berbagai bentuk sorotan. Tidak menonjol sama sekali. Ia seperti tinggal di dunia kecil yang ia bangun sendiri. Bermimpi menjadi seorang putri kecil yang bisa terbang di antara awan. Persahabatanku dengannya pun masih aku pertanyakan bagaimana awalnya. Sejauh yang bisa ku ingat adalah aku membelanya dari tekanan kakak kelas saat kami di kelas lima dan aku membantunya menyelesaikan prakaryanya. Namun kami baru benar-benar dekat ketika kelas enam ini.
Aku memiliki seorang saingan. Adit . Walaupun kami tidak pernah satu kelas, kami tahu satu sama lain. Dia adalah anak laki-laki hebat yang pertama kali kukenal. Ku akui itu. Aku benci saat dia berhasil mengalahkanku di berbagai kompetensi apapun. Aku benci senyumnya yang seperti mengejekku. Aku benci ulahnya yang selalu mengangguku. Kami selalu ribut, tidak pernah akur sekalipun. Selalu ada ada perdebatan yang mewarnai hari-hari kami. Mengesalkan namun entah mengapa itu sedikit menyenangkan. Intinya aku benar-benar tidak menyukainya. Tapi Rani berbeda, dia sangat mengagumi sosok Adit, sama seperti gadis-gadis lainnya, selalu memujanya. Pernah suatu ketika Rani bercerita kepadaku ,” Adit itu baik ya, waktu itu dia nemenin aku pas aku belum di jemput sama mamaku lho Lin, terus kita cerita banyak deh selain pinter dia juga enak di ajak ngomong, kenapa kamu gak suka sama dia Lin ?” tanyanya. Aku menggeleng mantap kepadanya, ”pokoknya aku bener-bener benci dan gak suka sama Adit, titik Rani. Dia itu nyebelin ba-nget. ” dan kita pun menghabiskan waktu untuk membicarakannya.
Entah mengapa, Di akhir kelas enam, Adit berubah. Dia mulai baik padaku, memperlakukanku sama seperti gadis lainnya, tidak pernah mengejekku, menggangguku, menggodaku lagi. Aku merasa seperti orang asing saat berada di dekatnya, benar-benar bukan Adit yang ku kenal. Pernah suatu hari dia menghampiriku di sudut kelas, duduk di hadapanku dan kemudian bertanya apa yang sedang ku kerjakan. Aku hanya tertegun, kemudian menjawabnya dengan ketus dan asal “ nulis, lihat kan “. Aku kira ia akan membalasku. Aku salah besar. Ia tersenyum, lesung pipi di pipi kirinya menguntai manis. Dan matanya menyipit hingga berbentuk bulan sabit kecil. Dia manis sekali. Dan saat itulah entah mengapa aku merasa berbeda saat berada di dekatnya, rasanya begitu hangat. ”Bukankah ini yang kamu mau. ” Ucapnya penuh arti. Dan aku hanya bisa menunduk sambil memaknai kata-katanya itu.
Dua bulan kemudian aku pun masuk SMP. Aku, Rani, dan Adit satu SMP. Betapa girangnya hati ini karena bisa masuk SMP terfaforit di kotaku itu. Aku mengharapkan kita bertiga bisa sekelas, jujur aku ingin sekali merasakan sekelas dengan Adit, kembali bersaing dengannya, bertengkar... Tapi sayang Tuhan tidak mendengar doaku. Aku terpisah dengannya. Adit sekelas dengan Rani. ” Lin, aku sekelas lo sama Adit ” ucapnya dengan nada girang. Deg, jantungku serasa berhenti berdetak. ”kok kamu seneng banget gitu Ran ?? hayoo kenapa? Kamu suka ya sama Adit ??” ucapku kemudian. ” gak lah, palingan suka sebagai temen aja Lin”. Gyaah, aku melepaskan nafas lega. Kenapa aku lega Rani tidak menyukai Adit ?

Senin, 20 September 2010

- exactly, 5 years -

ku ingat dia kawan lamaku
tak bersua lima tahun silam
aku harap selalu baik
diliput sejuta bahagia
andai ku bertemu sekarang
kan ku tanya: apa yang sudah kau beri
untuk hidupmu??
kan ku tanya: apa yang sudah ku beri
untuk hidupmu??
harapkan tak ada galau di hatimu
untuk mengatakan kau sudah berani
berucap satu kata janji
tak ingkar karena kau setia
tak hanya dikata dan dirasa
namun dilakukan untuk kita
biar hariku berarti selamanya

*puisi.net

Sabtu, 28 Agustus 2010

10.43 PM


I know God is very very fair .. 
but do not you just see the smile spread across in my face God?
maybe I like this song: 
I liked him, maybe I care .. 
but is it possible you be mine ..you ever be hers .. 
but am I wrong, when I buried sense of this ..
well, what now I can still hope? 
hey, you made me like rain in the afternoon 
responsibility please !!
what I can expect if you've forgotten?
or am I just her  replacement?

Rabu, 25 Agustus 2010

Yes, You Know It


“Yes I know you know it, but you pretend to don’t realize that ...”
The last word you say before you go on ..
Good, you dissapear when we’were in trouble. Me and you ...
I just remember, you like yesterday. Like to heard coldplay. Have you still like that ??
“And the hardest part was letting go, not taking part
Was the hardest part.
And the strangest thing
Was waiting for that bell to ring, it was the strangest part”
-oo-
The flowers cut and brought inside
The ache I feel inside
Is where the life has left your eyes
Iam alone for our last goodbye
But you are free

Rabu, 04 Agustus 2010

FIRST LOVE

Tuhan terima kasihh sudah mempertemukan aku padanya untuk kedua kalinya :)
gpp kok kalo dia jarang ngerespon, yg penting aku tahu diman dy dan gmn keadaannya dy sekarang..
yg penting denger dy bahagia dan sukses sekarang udah senenggg banged :)
Tuhaan, buat aku seperti dy yah . yang selalu tersenyum walaupun seberat apapun cobaan yang kau beri padanya :)
buatlah senyumannya tetap ada dan hanya menjadi milikku seorang :D
when i saw you at the second time you looked so different, but just one thing not changed.. it's your smile and your eyes :) lov you ...

Selasa, 13 Juli 2010

Waktu Aku Sama Kamu

  • Waktu aku sama kamu waktu serasa seribu jam lebih cepat. Karena aku hanya bisa berada di dekatmu dalam hitungan menit saja.
  • Waktu kamu ngobrol sama aku tentang dunia dan kehidupan ini, itu yang aku SUKA !
Tapi, waktu kamu bicarain betapa sempurnanya dia aku hanya dapat tersenyum pasrah.
Aduuuh, bagaimana sih aku! Kamu kan suka sama DIA , tapi dia ...
  • Waktu kamu tertawa dan gembira karena dia aku juga bahagia kok, walaupun aku berharap aku yang dapat membuatmu tertawa bukan dia
  • Waktu kamu pegang tanganku dan memuji penampilanku aku merasa jantungku berdetak keras sekali, aku sedikit berharap padamu
Habis kamu memperlakukan aku benar-benar seperti perempuan sih..
  • Waktu kamu sedih gara-gara dia, aku marah sama dia
Seharusnya dia bersyukur bisa disukain sama cowok sesempurna kamu
  • Waktu aku ngeliat kamu benar-benar terpuruk karena dia aku merasa bersalah
Seharusnya aku udah sadar dari dulu jika dia Cuma ngasih harapan kosong sama kamu. Cuma ngemanfaatin kamu.
  • Waktu kamu tetap bertahan dan berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa, aku menangis
  • Waktu kamu melihatku menangis kamu tersenyum
“Setidaknya aku masih memiliki orang yang selalu ada untukku, menemaniku menjalani kehidupan ini, memberikan ku warna-warna cerah. Orang itu kamu “
  • Waktu aku dan kamu bersama untuk menghabiskan waktu dia datang, kamu kembali lagi terjerat dengan pesonanya
  • Waktu aku ngebahas perlakuannya sama kamu, kamu marah dan menghujat aku adalah musuh di balik selimut
Benar.. karena dia temanku dan aku telah menghianatinya
  • Waktu aku menjaga jarak dengan kalian berdua, kamu bertanya mengapa aku menjauh
Aku hanya tersenyum menggeleng sambil berkata “Cuma perasaanmu saja”
  • Waktu kamu minta maaf sama aku, udah aku maafkan dari sebelum kesalahan itu ada kok
  • Waktu aku tak berhasil melupakanmu, kamu malah berada dekat di sampingku
  • Waktu kamu berkata menyesal telah menyukainya, aku sadar kamu tak seharusnya aku sukai
  • Waktu kamu bilang aku berharga untukmu, aku merasa kalimat itu terlalu sering kamu humbar
  • Waktu kembali melihatmu jatuh karena harapanmu yang tinggi tentang dia...
Aku tak lagi menangis untukmu, menangisi kesalahan terindah ku karena menyukaimu, karena..

Cinta yang tulus itu baru saja datang menghampiriku

Maaf, karena waktu kamu gag sama aku... tiba-tiba cinta itu datang dan berhasil membuatku berpaling dari kamu ...

Senin, 05 Juli 2010

When The Rain Was Fall

April 25, 2010 : 20.25
When the rain was fall, you came...
I was waiting the dream when you came near me and gave the blue umbrella
“THIS IS FOR YOU!!” you said that. I have silent, just didn’t know what i have to do.
“We will meet again, Iam promise that! Iam sure about that, bye, see you soon” that is the last word you said. And you ran, break through the rain and lost.
I dazed. You came like magic. Maybe it’s only dream. I tried to wake up, FAIL. You were real, the real prince I had seen.
Hey boy, who are you?

AIRPORT June 17, 2010 : 16.17
I was waiting again. In the waiting room now.
2 hours left, near to left this island. For a moment I’ll free, left the bad luck, to left the Liarness, and stoped to waiting you, memorable.
The rain was fall again. Suddenly I remember him, the prince umbrella.
I still remember how he had seen me, his eyes so beautiful, brown eyes ...
I have remembered his voice when he call me..
I have remember when he were smilling at me, that’s a pure smile ever.
Hey boy who are you ? when we’ll met again? Wanna to know you..

Mall June 19, 2010 : 10.12
The rain was falling again, it’s so bautiful looks.
I was listening the music on my ipod and close my eyes
When I was opened my eyes, the miracle was came...
Kim Bum voice was singging in my ears but i didnt hear that, you move my world.
My throat feel choke. My blood feel heat. I became a statue.
You wore a blue t-shirt, and it’s matc in your bright skin. You were setting your earphone. You were entering the ipod in your pant pockect. What a cool boy! You had seen the watch in your hand recur. You were talking with someone who look like older than you, he was bringing your bag. It’s viewed the prince and his adjudan.
I pretend to not saw you, I wish you ‘ll remind me (i didn’t know why). I thought you were forgot me.. Sure!
My heart was stopped to beat when... Your eyes met my eyes. You saw me with your manner. It’s quite incisive. I just silent. You came nearly me. And I still quiet. My body feel shake, I didnt do anything..
You came, more and more near with me. And then you stay in front of me exactly. You saw me again and then smiling.
“Gotcha !! I completed my promised” he was smiling again and I have cried. My heart feel narrow but it’s roomy! Like a strowberry. Sour, bitter, and sweet.
I was cried in his hug and it’s feel so warm and calm. Iam not understand what is that. Iam happy, I didn’t know why??!
“who are you? Asked me “
“I think you know, Iam is your guardian angel right now!! Iam sure you are the girls who created by God for me “
And then I know that everybody have each guardian angel. They will came slowly but sure to make your dream comes true, cause everybody have a dream . Don’t you ?